Pemintal Essay

2215 Words Apr 15th, 2014 9 Pages
Ch. 3 Social and Cultural Performances

Beberapa alasan yang menyebabkan pentingnya untuk mempelajari lingkungan sosial dan budaya bagi pemasar internasional, antara lain: 1. Penting untuk mempelajari dan memahami sebuah budaya negara untuk mengetahui lebih dalam karakteristik negara tersebut. 2. Mengaplikasikan pengetahuan sosial dan budaya tersebut ke dalam proses perencanaan pemasaran. 3. Dan, menciptakan keunggulan dengan penyesuaian terhadap budaya yang dianggap sesuai dan bisa mendatangkan profit bagi perusahaan tanpa perlu membuang biaya untuk hal yang kurang diperlukan. Contohnya, seorang Indonesia yang memiliki uncertainty avoidance akan cenderung berobat ke Malaysia dan Singapura daripada di dalam negara
…show more content…
- Dietary preferences: penyesuaian rasa untuk negara yang berbeda, mengedukasi konsumen, dan meminta bantuan penduduk lokal. - Language and Communication: formal (syntax, semantics, phonology, morphology) dan informal.

• Culture is universal = ada berbagai macan perilaku di budaya yang berbeda. • Pemasar internasional harus dapat memahami manusia dari sudut pandang orang lokal dan menjadi insiders dengan empati budaya. Filipina: environmental sensitivity-nya rendah, mudah masuk pasar, sedangkan Indonesia tinggi, sensitif. • Oleh karena itu, pemasar yang baik memerlukan combination of tough-mindedness & generosity: - Tough-mindedness: nyaman dan yakin dengan nilai dan keyakinan pribadi - Generosity: menghargai integritas dan nilai-nilai hidup orang lain.

High Context and Low Context
High context adalah sebuah budaya, atau kebiasaan yan ada dalam suatu organisasiyang lebih mengedepankan komunikasi, membangun relationship yang baik, dan membutuhkan contextual communication yang baik. Low Context bersifat lebih kaku dan fungsional. Pada low context tujun utamanya adaah komunikasi untuk bertukar informasi, fakta, pendapat, tanpa mengedepankan relationship.
Contoh negara mulai dari Hi – Low context
[pic]
Sumber: Warren, Keagan. Global Marketing 6th edition.
Hofstede’s Cultural Topology
[pic]
Dalam sebuah teori Hofstede’s cultural topology, mengukur sebuah culture dalam 5 dimensi, seperti

Related Documents